mulok


Minggu, 08 Juni 2008
Liputan6.com, Jakarta: Jangan heran, bila pada Maret nanti, tagihan listrik Anda lebih murah atau lebih mahal dari biasanya. Mulai bulan itu, Perusahaan Listrik Negara akan menjalankan program insentif dan disinsentif listrik [baca: PLN Diduga Akan Menaikkan Tarif Listrik].
Rencana PLN memberikan potongan tarif listrik disambut antusias sebagian warga. Suhani, misalnya, berencana menghemat pemakaian listrik di rumahnya. Terutama bila memang dengan cara itu tagihan listriknya mendapat diskon atau potongan. Selama ini, ia merasa berat membayar tagihan listrik.
Saat ini PLN sudah menetapkan patokan pemakaian bagi pelanggan. Untuk rumah tangga dengan daya 450 voltampere (VA), Anda dikatakan hemat jika memakai listrik di bawah 75 kilowatt-hour (kWh) per bulan. Sedangkan 900 voltampere ditetapkan 115 kWh dan 1.300 VA sebesar 201 kWh.
Bila ingin mengetahui seberapa besar listrik dapat dihemat, pertama-tama cari tahu daya listrik di rumah Anda. Jika 450 VA, maka usahakan memakai listrik di bawah 75 kWh tiap bulannya. Kalau pemakaian di bawah 75 kWh, Anda akan mendapat insentif berupa diskon 20 persen untuk pemakaian listrik yang tidak terpakai. Sebaliknya kalau pemakaian di atas angka itu, tagihan Anda akan membengkak. Sebab, kelebihan listrik yang Anda pakai akan dihitung 1,6 kali lebih besar dari harga tarif normal.
Rencana ini dikritik karena merugikan konsumen terutama di kota besar seperti Jakarta. Menurut anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi, pemakaian listrik setiap warga Ibu Kota jauh di atas batas yang ditetapkan pemerintah tersebut. Adapun dari program tersebut, menurut Direktur Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN Sunggu Aritonang, PLN berharap bisa menghemat subsidi bahan bakar sebesar Rp 18 triliun.
Persoalannya adalah, apakah masyarakat terutama di kota-kota besar bisa berhemat? Tanpa pengawasan ketat, program ini juga bisa memicu pencurian listrik.

Posted by .sosone.circle.economic at 20.07 | 0 comments
Bila William Tell masih hidup, entah apa yang akan dikatakan pahlawan legendaris Swiss itu kepada pemerintahnya sekarang. Pada akhir abad XIII, petani dari Uri ini mengangkat senjata untuk memberontak kepada kekuasaan Austria, negara tetangga mereka. Dalam sebuah perang, Tell tertangkap.
Tentara Austria melepasnya setelah menyuruh Tell menembak sebutir apel yang mereka letakkan di atas kepala anak sang pahlawan. "Tak ada pertemanan antara Swiss dan Austria." Itulah kalimat terkenal yang keluar dari mulut Tell.
Melewati delapan abad, Swiss malah menjadikan Austria sebagai mitra tuan rumah bersama Piala Eropa alias Euro 2008. Tak ada lagi permusuhan di antara kedua negara itu. Swiss bahkan tak pernah berperang dengan negeri mana pun dalam hampir 200 tahun terakhir. Tapi Tell tetap dikenang sebagai bapak bangsa pembentuk karakter nasional Swiss.
Kebijakan yang ketat dari Asosiasi Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) membuat Swiss dan Austria bekerja sama. Austria pernah mencoba menggandeng Hungaria sebagai tuan rumah Euro 2004, tapi kalah oleh Portugal, yang lantas menjadi tuan rumah.
Austria-Swiss terpilih pada 2001. Kedua negara itu menyisihkan pasangan Irlandia-Skotlandia, Yunani-Turki, Kroasia-Bosnia-Herzegovina, dan empat negara Nordic. Sebagai tuan rumah Piala Eropa berikutnya, pada 2012, duet Polandia-Ukraina yang ditunjuk.
Tren menjadi tuan rumah bersama Piala Eropa dipelopori oleh Belgia-Belanda pada Euro 2000. Dua tahun kemudian, Piala Dunia 2002 juga diselenggarakan di dua negara, Korea Selatan-Jepang. Tradisi ini berlanjut.
Ini tak lain karena standar dari UEFA sangat berat bagi negara yang berminat menjadi tuan rumah. Salah satu syarat terberatnya adalah negara itu harus memiliki minimal delapan buah stadion: satu stadion berbintang lima dan sisanya berbintang empat.
Selain itu, UEFA mempertimbangkan apakah sepak bola menjadi olahraga terpopuler di negeri tersebut. Problem ini tentu sangat berat dipecahkan oleh Swiss, misalnya, yang sebagian besar masyarakatnya lebih menggemari ski es daripada olah kulit bundar itu.
Bila dua negara bersatu, masing-masing negara minimal cuma perlu membangun sarana transportasi yang memadai untuk menjangkau kota-kota tuan rumah. Biasanya satu negara memiliki satu stadion yang berstandar bintang lima. Karena itu, masing-masing negara cuma perlu merenovasi empat stadion lain agar berstandar bintang empat.
Selayaknya dua negara bertetangga, Swiss dan Austria memiliki banyak kesamaan. "Sifat tekun menjadi kesamaan masyarakat kedua negara," kata Ralph Zloczower, Presiden Asosiasi Sepak Bola Swiss. Swiss terkenal sebagai penghasil jam, pekerjaan yang memerlukan ketekunan tingkat tinggi. Sementara itu, di Austria terdapat tak kurang dari 300 perusahaan penghasil komponen otomotif, yang juga memerlukan kecermatan.
Masyarakat kedua negara juga menggunakan bahasa yang relatif sama: sebagian besar berbahasa Prancis, Jerman, dan sebagian kecil berbahasa Inggris. Pegunungan Alpen yang melintang di kedua negara menjadi monumen lain yang menyatukan mereka.
Luas Swiss cuma lebih sedikit dari 41 ribu kilometer persegi--lebih kecil daripada Jawa Timur, hampir 48 ribu kilometer persegi. Sedangkan luas Austria 83 ribu kilometer persegi. Pada 2007, jumlah penduduk Swiss diperkirakan sekitar 7,6 juta jiwa. Itu lebih kecil daripada populasi Jakarta pada 2000, di atas 8.000 jiwa, yang setara dengan jumlah penduduk Austria pada 2007.
Dengan jumlah penduduk sedikit tapi berpenghasilan besar, tak mengherankan bila pendapatan per kapita kedua negara termasuk yang tertinggi di dunia: Swiss peringkat keenam, Austria peringkat kedelapan. Pendapat per kapita Swiss US$ 38.705 dan Austria US$ 36 ribu.
Austria dan Swiss berharap pelaksanaan Euro 2008 kian melambungkan perekonomian mereka. Studi yang dilakukan salah satu sponsor resmi kejuaraan ini, MasterCard Inc., menyebut bahwa turnamen ini akan memacu peningkatan ekonomi Eropa sampai 1,4 miliar euro (sekitar Rp 15 triliun).
Dari masing-masing pertandingan, dari 31 partai, keuntungannya mencapai 42 juta euro (sekitar Rp 546 miliar). Menurut perhitungan Direktur Bisnis Olahraga Coventry University Simon Chadwick, partai Italia versus Belanda dan Belanda versus Prancis--keduanya di Grup C--bakal menjadi pertandingan yang menjanjikan keuntungan tertinggi.
Sebagai perbandingan, Portugal beroleh keuntungan 800 juta euro (sekitar Rp 10,4 triliun) setelah menjadi tuan rumah Piala Eropa 2004. Sebuah siaran langsung pertandingan di Portugal disaksikan di 200 negara dan rata-rata dipelototi 150 juta orang. Sementara itu, pertandingan-pertandingan di Austria-Swiss diperkirakan bakal disaksikan total 2,6 triliun orang di luar Eropa.
Namun, Direktur Pusat Penelitian Ekonomi BAK Basel, Swiss, Urs Mueller, skeptis atas hitung-hitungan itu. "Efek ekonominya sulit dideteksi, pengaruhnya mungkin tak terlalu terlihat," kata Mueller.
Menurut Mueller, 1,4 juta wisatawan akan berkumpul di Austria-Swiss. Bisnis retailer dan merchandise akan menyediakan sekitar 7.500 lapangan pekerjaan baru yang bersifat semipermanen.
Dalam hitungannya, kedua negara akan beroleh pendapatan kotor US$ 813 juta. Angka itu tak terlalu besar bagi Swiss, yang pendapatan domestiknya dari investasi dan bisnis saja mencapai US$ 420 miliar per tahun. "Artinya, pendapatan dari Euro cuma 0,2 persen dari pendapatan kotor Swiss," Mueller menambahkan.
Entahlah, siapa yang paling benar. Yang jelas, Austria-Swiss bakal menjadi tempat perhelatan salah satu kejuaraan terbesar di bumi saat ini pada 7-29 Juni nanti. Para penikmat bolalah yang bakal dimanjakan. Soal uang, itu urusan kedua negara.

Posted by .sosone.circle.economic at 19.40 | 0 comments

Harga minyak dunia naik lagi mencapai rekor tertinggi, setelah laporan pemerintah menunjukkan berkurangnya cadangan minyak Amerika hari Rabu. Harga minyak mentah untuk pengiriman masa depan mencapai 65 dolar per barel di pasar New York.
Harga minyak melonjak setelah Departemen Energi Amerika melaporkan untuk pekan keenam berturut-turut, bahwa cadangan minyak nasional Amerika terus turun.
Laporan itu menunjukkan bahwa cadangan minyak pekan lalu turun sedikit di bawah dua juta barel menjadi 203,1 juta barel. Data yang diikuti dengan seksama itu juga menunjukkan peningkatan cadangan minyak secara tidak terduga, sehingga mula-mula harga minyak turun.
Harga minyak sekarang ini sekitar 42 persen lebih tinggi dibandingkan setahun yang lalu. Para analis mengatakan, permintaan yang kuat dan kecemasan mengenai kemungkinan terganggunya pemasokan menjadi penyebab utama naiknya harga minyak.

Posted by .sosone.circle.economic at 19.38 | 0 comments


Memang, kenaikan harga BBM bagi rakyak Indonesia bukan barang baru lagi, salah satu alasan yaitu kenaikan harga minyak dunia.Tentu hal ini berimbas langsung pada roda perekonomian secara makro, mau gak mau kebutuhan lain - lain juga ikut membumbung seiring kenaikan BBM, terutama pada kebutuhan pokok.Pada tahun 2008, harga minyak dunia diperkirakan bakal menembus level 100 dolar AS per-barel. Gilaaa….!!!!“Waduh…waduh…naik kok terus, kapan turunnya ya…??” celetuk paijo di cangkru’an warkop.Dampak kenaikan harga minyak dunia, mau tau mau dirasakan Indonesia, karena negara kita dikenal sebagai konsumen sekaligus produsen besar Bahan Bakar Minyak (BBM).

Langkah yang diambil Pemerintah dlm meredam kenaikan harga BBM, adalah melakukan beberapa penyesuaian kebijakan makro ekonomi, tentu hal ini akan berdampak pula pada sektor riil ekonomi rakyat.Pada tanggal 1 Desember 2007 kemaren, BBM nonsubsidi (minyak tanah untuk industri) mengalami kenaikan sebesar 21,7 %, Kenaikan sebesar itu bagi kalangan dunia usaha, akan mendongkrak biaya produksì.Pada gilirannya, para konsumen dan buruh tenaga kerja akan merasakan dampak langsung.“waa..bisa-bisa UMK direvisi lagi, karena pengusaha merasa dapat beban baru lagi, kan kita tahu, UMK dah ditetapkan dan sekarang sudah disusul kenaikan BBM…?”Memang, kenaikan BBM sebesar 21,7% tidak ada gelombang protes dari kalangan dunia usaha, tapi yang jadi pertanyaan adalah darimana rumus itu, hingga ketemu angka 21,7%.Sip..transparansi dan kerjasama bersama memang dibutuhkan, toleransi antara kalangan usaha swasta, badan usaha negara dan Pemerintah.


Posted by .sosone.circle.economic at 19.27 | 0 comments