mulok


Minggu, 08 Juni 2008
Bila William Tell masih hidup, entah apa yang akan dikatakan pahlawan legendaris Swiss itu kepada pemerintahnya sekarang. Pada akhir abad XIII, petani dari Uri ini mengangkat senjata untuk memberontak kepada kekuasaan Austria, negara tetangga mereka. Dalam sebuah perang, Tell tertangkap.
Tentara Austria melepasnya setelah menyuruh Tell menembak sebutir apel yang mereka letakkan di atas kepala anak sang pahlawan. "Tak ada pertemanan antara Swiss dan Austria." Itulah kalimat terkenal yang keluar dari mulut Tell.
Melewati delapan abad, Swiss malah menjadikan Austria sebagai mitra tuan rumah bersama Piala Eropa alias Euro 2008. Tak ada lagi permusuhan di antara kedua negara itu. Swiss bahkan tak pernah berperang dengan negeri mana pun dalam hampir 200 tahun terakhir. Tapi Tell tetap dikenang sebagai bapak bangsa pembentuk karakter nasional Swiss.
Kebijakan yang ketat dari Asosiasi Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) membuat Swiss dan Austria bekerja sama. Austria pernah mencoba menggandeng Hungaria sebagai tuan rumah Euro 2004, tapi kalah oleh Portugal, yang lantas menjadi tuan rumah.
Austria-Swiss terpilih pada 2001. Kedua negara itu menyisihkan pasangan Irlandia-Skotlandia, Yunani-Turki, Kroasia-Bosnia-Herzegovina, dan empat negara Nordic. Sebagai tuan rumah Piala Eropa berikutnya, pada 2012, duet Polandia-Ukraina yang ditunjuk.
Tren menjadi tuan rumah bersama Piala Eropa dipelopori oleh Belgia-Belanda pada Euro 2000. Dua tahun kemudian, Piala Dunia 2002 juga diselenggarakan di dua negara, Korea Selatan-Jepang. Tradisi ini berlanjut.
Ini tak lain karena standar dari UEFA sangat berat bagi negara yang berminat menjadi tuan rumah. Salah satu syarat terberatnya adalah negara itu harus memiliki minimal delapan buah stadion: satu stadion berbintang lima dan sisanya berbintang empat.
Selain itu, UEFA mempertimbangkan apakah sepak bola menjadi olahraga terpopuler di negeri tersebut. Problem ini tentu sangat berat dipecahkan oleh Swiss, misalnya, yang sebagian besar masyarakatnya lebih menggemari ski es daripada olah kulit bundar itu.
Bila dua negara bersatu, masing-masing negara minimal cuma perlu membangun sarana transportasi yang memadai untuk menjangkau kota-kota tuan rumah. Biasanya satu negara memiliki satu stadion yang berstandar bintang lima. Karena itu, masing-masing negara cuma perlu merenovasi empat stadion lain agar berstandar bintang empat.
Selayaknya dua negara bertetangga, Swiss dan Austria memiliki banyak kesamaan. "Sifat tekun menjadi kesamaan masyarakat kedua negara," kata Ralph Zloczower, Presiden Asosiasi Sepak Bola Swiss. Swiss terkenal sebagai penghasil jam, pekerjaan yang memerlukan ketekunan tingkat tinggi. Sementara itu, di Austria terdapat tak kurang dari 300 perusahaan penghasil komponen otomotif, yang juga memerlukan kecermatan.
Masyarakat kedua negara juga menggunakan bahasa yang relatif sama: sebagian besar berbahasa Prancis, Jerman, dan sebagian kecil berbahasa Inggris. Pegunungan Alpen yang melintang di kedua negara menjadi monumen lain yang menyatukan mereka.
Luas Swiss cuma lebih sedikit dari 41 ribu kilometer persegi--lebih kecil daripada Jawa Timur, hampir 48 ribu kilometer persegi. Sedangkan luas Austria 83 ribu kilometer persegi. Pada 2007, jumlah penduduk Swiss diperkirakan sekitar 7,6 juta jiwa. Itu lebih kecil daripada populasi Jakarta pada 2000, di atas 8.000 jiwa, yang setara dengan jumlah penduduk Austria pada 2007.
Dengan jumlah penduduk sedikit tapi berpenghasilan besar, tak mengherankan bila pendapatan per kapita kedua negara termasuk yang tertinggi di dunia: Swiss peringkat keenam, Austria peringkat kedelapan. Pendapat per kapita Swiss US$ 38.705 dan Austria US$ 36 ribu.
Austria dan Swiss berharap pelaksanaan Euro 2008 kian melambungkan perekonomian mereka. Studi yang dilakukan salah satu sponsor resmi kejuaraan ini, MasterCard Inc., menyebut bahwa turnamen ini akan memacu peningkatan ekonomi Eropa sampai 1,4 miliar euro (sekitar Rp 15 triliun).
Dari masing-masing pertandingan, dari 31 partai, keuntungannya mencapai 42 juta euro (sekitar Rp 546 miliar). Menurut perhitungan Direktur Bisnis Olahraga Coventry University Simon Chadwick, partai Italia versus Belanda dan Belanda versus Prancis--keduanya di Grup C--bakal menjadi pertandingan yang menjanjikan keuntungan tertinggi.
Sebagai perbandingan, Portugal beroleh keuntungan 800 juta euro (sekitar Rp 10,4 triliun) setelah menjadi tuan rumah Piala Eropa 2004. Sebuah siaran langsung pertandingan di Portugal disaksikan di 200 negara dan rata-rata dipelototi 150 juta orang. Sementara itu, pertandingan-pertandingan di Austria-Swiss diperkirakan bakal disaksikan total 2,6 triliun orang di luar Eropa.
Namun, Direktur Pusat Penelitian Ekonomi BAK Basel, Swiss, Urs Mueller, skeptis atas hitung-hitungan itu. "Efek ekonominya sulit dideteksi, pengaruhnya mungkin tak terlalu terlihat," kata Mueller.
Menurut Mueller, 1,4 juta wisatawan akan berkumpul di Austria-Swiss. Bisnis retailer dan merchandise akan menyediakan sekitar 7.500 lapangan pekerjaan baru yang bersifat semipermanen.
Dalam hitungannya, kedua negara akan beroleh pendapatan kotor US$ 813 juta. Angka itu tak terlalu besar bagi Swiss, yang pendapatan domestiknya dari investasi dan bisnis saja mencapai US$ 420 miliar per tahun. "Artinya, pendapatan dari Euro cuma 0,2 persen dari pendapatan kotor Swiss," Mueller menambahkan.
Entahlah, siapa yang paling benar. Yang jelas, Austria-Swiss bakal menjadi tempat perhelatan salah satu kejuaraan terbesar di bumi saat ini pada 7-29 Juni nanti. Para penikmat bolalah yang bakal dimanjakan. Soal uang, itu urusan kedua negara.

Posted by .sosone.circle.economic at 19.40 |

0 Comments: