mulok


Minggu, 08 Juni 2008


Memang, kenaikan harga BBM bagi rakyak Indonesia bukan barang baru lagi, salah satu alasan yaitu kenaikan harga minyak dunia.Tentu hal ini berimbas langsung pada roda perekonomian secara makro, mau gak mau kebutuhan lain - lain juga ikut membumbung seiring kenaikan BBM, terutama pada kebutuhan pokok.Pada tahun 2008, harga minyak dunia diperkirakan bakal menembus level 100 dolar AS per-barel. Gilaaa….!!!!“Waduh…waduh…naik kok terus, kapan turunnya ya…??” celetuk paijo di cangkru’an warkop.Dampak kenaikan harga minyak dunia, mau tau mau dirasakan Indonesia, karena negara kita dikenal sebagai konsumen sekaligus produsen besar Bahan Bakar Minyak (BBM).

Langkah yang diambil Pemerintah dlm meredam kenaikan harga BBM, adalah melakukan beberapa penyesuaian kebijakan makro ekonomi, tentu hal ini akan berdampak pula pada sektor riil ekonomi rakyat.Pada tanggal 1 Desember 2007 kemaren, BBM nonsubsidi (minyak tanah untuk industri) mengalami kenaikan sebesar 21,7 %, Kenaikan sebesar itu bagi kalangan dunia usaha, akan mendongkrak biaya produksì.Pada gilirannya, para konsumen dan buruh tenaga kerja akan merasakan dampak langsung.“waa..bisa-bisa UMK direvisi lagi, karena pengusaha merasa dapat beban baru lagi, kan kita tahu, UMK dah ditetapkan dan sekarang sudah disusul kenaikan BBM…?”Memang, kenaikan BBM sebesar 21,7% tidak ada gelombang protes dari kalangan dunia usaha, tapi yang jadi pertanyaan adalah darimana rumus itu, hingga ketemu angka 21,7%.Sip..transparansi dan kerjasama bersama memang dibutuhkan, toleransi antara kalangan usaha swasta, badan usaha negara dan Pemerintah.


Posted by .sosone.circle.economic at 19.27 |

0 Comments: